Sondag 03 November 2013

I Knew I Loved You -Chapter4-


When your gone The pieces of my heart are missing you..
When your gone The face I came to know is missing too..
When your gone The words I need to hear to always get me trough the day..
And make it OK. I miss you :’)
( When Your Gone – AvrilLavigne)


Aku berlari menuju sebuah hutan yang dipenuhi dengan kunang-kunang, danada sebuah kunang-kunang yang sangat menarik. Aku terus berlari sampai akhirnya menemukan sebuah danau berair  bersih dan tenang. Entah mengapa disana aku merasa bebanku menghilang. Tapi sosok Fero muncul ditengah danau membuatku tersentak.
“jangan hiraukan apa yang mengganggu fikiranmu, Rani. Tetaplah berjalan mengikuti alur takdir tuhan. Ingat. Apapun yang terjadi mungkin saja dia memang jodoh-mu. Dan dia lebih pantas untuk menggantikan aku. Berbahagialah, sayangku”
“FEROOO” Lagi-lagi aku bermimpi tentangnya. Mengapa disaat aku terpuruk, ia terus hadir dalam mimpiku untuk memberi tahu apa yang terjadi. dan apakah benar, Ditya orang yang pantas untukku?
“rani? Kau tidak apa-apa?” Sosok Ditya muncul setelah pintu kamarku terbuka. Sepertinya teriakanku terlalu keras.
“ya, tidak apa-apa. Hanya sebuah mimpi buruk” Jawabku, Ditya mendekat kearahku. Kenapa sedekat ini bersamanya membuatku cukup aman dan nyaman? Bagaimana bisa Ditya yang baru aku kenal hari ini bisa membuatku merasa seperti ini?
“Tidurlah, aku akan menjagamu” Tutur Ditya, ia benar-benar menjagaku. Ia duduk disampingku sambil mengusap kepalaku. Itu adalah satu kebiasaan yang dimilik Fero. Dan mungkin aku harus terbiasa dengan ini.
            Pagi ini aku terbangun dan Ditya sudah tidak ada didekatku, kemana dia? Apakah semalam aku hanya bermimpi saat ia menemaniku tertidur. Saat aku masih sibuk dengan fikiranku seseorang membuka pintu, dan tepat saat itu pula  aku melihat Ditya dengan cengiran khas fero, bahkan tatapan yang khas juga.
“good morning, Raniia. Bagaimana? Apa tidurmu nyenyak?” Tanyanya, aku mengangguk dan membenarkan posisiku.
“terimakasih kau sudah mau menjagaku semalam.” Jawabku singkat. Lelaki itu mengangguk.
“tidak masalah, jika kau membutuhkanku cukup panggil aku  saja. Ohiya, ayo kita sarapan. Setelah itu aku akan ikut denganmu mengantar melly” Paparnya. Aku memandangi sosok lelaki itu, sungguh lelaki yang menyenangkan.
“apakah ayah dan ibuku sudah pergi kekantor?” Tanyaku, Ditya mengangguk.
“sebaiknya kau cepat mandi lalu kita sarapan bersama. Melly sudah menunggu” Jawab Ditya lalu meninggalkan aku dikamar.
            Suasana bandung pagi ini cukup cerah, setelah mengantar Melly kesekolahDityamengajakkupergikesuatutempat. Ternyata dulu Ditya pernah tinggal di bandung sebelum ia dan keluarganya memutuskan untuk pindah kejakarta. Aku senang, ternyata Ditya typical lelaki yang mudah bergaul. Ia bercerita tentang rasa sukanya pada pemandangan, dan ia pernah menemukan satu danau yang letaknya berada di pedalaman sebuah pohon-pohon kayu jati. Ia menemukan tempat itu bersama mendiang kekasihnya.
            Ditya mengendarai mobilku melewati hamparan kebun teh disisi kanan-kiri jalanan. Sungguh pemandangan yang sangat indah, ditambah udara dingin yang menusuk tulang. Bandung memang sangat berbeda dengan Jakarta. Dan aku sangat bersyukur karena Jessy mengajakku pindah kesini. Kini aku berusaha untuk tidak memikirkan siapa sebenarnya  Ditya, mengapa ia mirip sekali dengan almarhum Fero. Yang jelas aku akan menerimanya sebagai Ditya Nuraga, sepupu tiriku dan juga seorang teman baru dalam hidupku.
“apa kau lelah? Tidur saja dulu, perjalanan kita masih membutuhkan waktu yang cukup lama” Ujar Ditya, pandangannya masih jauh kedepan. Aku menggeleng, sebenarnya aku memang agak mengantuk tapi tidak adil rasanya jika aku membiarkan Ditya mengendarai mobil tanpa teman untuk mengobrol.
“Nanti juga kau tau, satu tempat yang sangat indah” Jawabnya misterius.
~~
            Ditya memberhentikan mobilnya disebuah area parkir. Aku mengerutkan keningku, untuk apa Ditya membawaku kesini?
“Dit, sebenarnya kau mau membawaku kemana?” Tanyaku.
“sekarang masih jam delapan, kira-kira kita akan menjemput melly jam berapa?” Tanya Ditya kembali.
“sekarang hari kamis, melly pulang jam setengah empat sore karena ada les tambahan. Kita memangnya mau kemana? Kenapa mobilnya diparkir disitu Ditya?” Tanyaku gemas.
“Cerewet. Sudah ayo ikut saja denganku” Jawab Ditya sambil mengacak rambutku, aku menggembungkan pipiku tanda kesal. Ia menggandengku tanganku, kini kami berjalan disebuah jalan setapak yang ada dihamparan pohon pohon yang menjulang tinggi. Pertanyaanku belum dijawab oleh Ditya, ia memang typical lelaki yang mungkin susah ditebak. Lelaki ini menuntunku dengan lembut, tunggu dulu sepertinya aku pernah melewati hutan ini, tapi kapan? Dejavu itu kini hadir, pohon-pohon ini sangat familiar dalam ingatanku. Apa kah artinya ini?
“kau lelah?” Tanya Ditya, ia menghentikan langkahnya.
“uhm, lumayan. Memangnya seberapa lama lagi kita akan berjalan?” Tanyaku kembali.
“mungkin sekitar sepuluh menit lagi. Kalau kau lelah bilang saja, biar aku menggendongmu” Ujarnya sambil tersenyum. Menggendongku? Dia pasti bercanda. Aku ini kan bukan anak kecil.
“kau meledekku ya? Aku ini perempuan yang kuat tau” Tuturku, Ditya terkekeh. Kami melanjutkan perjalanan ini.
“yang ku dengar dari tante Tiwi kau sempat tinggal dijakarta? Kenapa kau pindah kesini?” Tanya Ditya, kami masih berjalan melewati jalan setapak dihutan.
“Ya, ada sesuatu yang membuatku memutuskan pindah ke bandung. Sesuatu yang cukup menyedihkan mungkin” Jawabku. ditya berhenti berjalan, dia menatapku. Entah mengapa tatapannya itu seperti orang yang sedang membaca isi hatiku.
“Oh begitu” Komentarnya lalu kembali berjalan.
            Cukup lama kami berjalan akhirnya Ditya berhenti disebuah halaman luas, halaman yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang tumbuh subur, dan yang paling mencengangkan adalah saat aku melihat sebuah danau dengan air yang sangat jernih dan juga tenang. Aku terpaku dalam lamunanku sesaat, sampai genggaman tangan Ditya menyadarkanku.
“Kau baik-baik saja, Rania?” Tanya Ditya. Aku mengangguk, hembusan nafasku kini sudah berangsur pulih. Saat pertama melihat danau itu aku merasa tercekat, nafasku memburu.
“Ditya, darimana kau tau tempat ini?” Tanyaku pelan. Aku benar-benar tidak mengerti, danau ini sangat mirip dengan danau yang muncul dimimpiku semalam.
“kau lupa ceritaku tadi ya? Ini lah danau yang aku maksud, Rani” Jawabnya sambil tersenyum. Aku baru sadar ada yang berbeda dari senyuman ditya dengan Fero. Ditya mempunyai tiga guratan saat ia tersenyum.
“tidak mungkin” Gumamku.
“apa kau bilang? Kau tidak suka dengan pemandangan ini?” Tanya dita hati-hati. Kini tangan ditya menggenggam tanganku erat.
“bu..bukan begitu. Aku suka sekali, dijakarta mana ada pemandangan seperti ini” Jawabku kalap. Ditya tersenyum, ia mengajakku duduk dipiinggiran danau. Sesekali ia memainkan air, aku tertawa kecil melihat ditya yang seperti itu. Sungguh, wajahnya sangat menggemaskan.
“kau tau tidak? Pada malam hari didanau ini banyak sekali kunang-kunangnya. Jika kita bisa menangkapnya kemungkinan apa yang kita inginkan akan terkabul” Tutur Ditya.
“termasuk meminta seseorang yang sudah tidak ada kembali lagi didunia?” Gumamku pelan, aku sama sekali tidak berniat mengatakan ini pada Ditya. Tapi, lelaki itu menghentikan aktifitasnya dan menatapku hangat.
“Kita ini hidup Cuma sekali rani, Jika tuhan mengabulkan permintaan seperti itu aku juga ingin meminta Tara kembali lagi disini. Bersamaku. Tapi itu semua tidak akan mungkin. Sekeras apapun kita meminta, sesering apapun kita berdoa, mereka yang sudah meninggal tidak akan kembali lagi.” Aku terhenyak mendengar kata-kata Ditya. Siapa Tara? Apa ia juga kehilangan kekasihnya?
“siapa Tara?” Tanyaku. Ditya tersenyum pedih, tapi ia tetap bersikap tenang.
“Kekasihku. Dia meninggal ditempat saat kami kecelakaan. Sebuah mobil menabrak mobil yang kami kendarai, aku terpental keluar sementara Tara terjebak didalam mobil, sampai akhirnya mobil itu terbakar. Yang aku tau mobil yang menabrak kami pun meninggal dunia setelah beberapa minggu koma. Aku tau disini tidak ada yang bisa disalahkan, lelaki itu mengendarai mobilnya dengan cepat sementara saat itu aku dan Tara sedang bertengkar. Aku yang memegang kemudi pun tidak bisa berbuat apa-apa. Semua terjadi begitu cepat. Aku tau, dimana pun Tara berada sekarang, aku akan berusaha untuk membuat ia bahagia” Jawab Ditya, aku meremas jemarinya berusaha menguatkannya.
“bagaimana bisa kau tau dia bahagia disana, Ditya?” Tanyaku polos.

“mengikhlaskannya, mengirimkan doa untuknya, dan juga menjalani kehidupan yang baru. Bukan maksudku mengkhianati cinta kami, tapi aku hanya berusaha menjalankan yang terbaik untuk diriku.” Jawab Ditya. Aku mengangguk mengerti. Apakah aku bisa menjadi setegar ditya?