Vrydag 31 Oktober 2014

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEORANG KONSUMEN DALAM MELAKUKAN PEMBELIAN

1.      Faktor Sosial
a. Grup
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp. 203-204).
b. Pengaruh Keluarga
Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).
c. Peran dan Status
Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat(Kotler, Amstrong, 2006, p.135).

2.      Faktor Personal
a. Situasi Ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).
b. Gaya Hidup
Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138)
c. Kepribadian dan Konsep Diri
Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).
d. Umur dan Siklus Hidup
Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis.(Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)
e. Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207)

3.      Faktor Psikologi
a. Motivasi
Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).
b. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).
c. Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama(Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).
d. Beliefs and Attitude
Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).

4.      Faktor Kebudayaan
Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).
a. Subkultur
Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).
b. Kelas Sosial
Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132).


PENGERTIAN DAN TUJUAN MEMPELAJARI PERILAKU KONSUMEN (TUGAS 1)

Pengertian Perilaku Konsumen menurut para Ahli

Menurut Engel, Blackwell dan Miniard, perilaku konsumen diartikan “…. Those actions directly involved in obtaining, consuming, and disposing of products and services, including the decision processes that precede and follow this action” (p.3). Perilaku konsumen merupakan tindakan–tindakan yang terlibat secara langsung dalam memperoleh, mengkonsumsi, dan membuang suatu produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan – tindakan tersebut.
Menurut Loudon dan Bitta Mencakup proses pengambilan keputusan dan kegiatan yang dilakukan konsumen secara fisik dalam pengevaluasian, perolehan, penggunaan dan mendapatkan barang atau jasa.
Menurut Hawkins, Best dan Coney Merupakan studi tentang bagaimana individu, kelompok atau organisasi melakukan proses pemilihan, pengamanan, penggunaan dan penghentian produk, jasa, pengalaman atau ide untuk memuaskan kebutuhannya terhadap konsumen dan masyarakat.
Menurut Schiffman dan Kanuk Merupakan studi yang mengkaji bagaimana individu membuat keputusan membelanjakan sumber daya yang tersedia dan dimiliki (waktu, uang dan usaha) untuk mendapatkan barang atau jasa yang akan dikonsumsi.

Tujuan Perilaku Konsumen

Tujuan mempelajari perilaku konsumen untuk melaksanakan semua kegiatan dalam proses manajemen pemasaran, pemasar perlu mengetahui perilaku konsumen. Sasarannya supaya kiat-kiat pemasaran yang dilakukan benar-benar mengarah pada profitability dari perusahaan.


Sumber :


Woensdag 19 Februarie 2014

Apalah Arti Menunggu**

Menunggu..
Sebuah kata yang cukup membosankan untuk didengar, atau malah untuk dijalankan. Mengapa aku sebut membosankan? Karena aku telah menjalankan itu selama sekitar enam tahun. Menunggu apa yang aku rasa harus ku tunggu. Namun tidak jelas akan kepastiannya.

Tahukah kamu?

Tidak ada hal yang lebih membosankan daripada harus menunggu. Menunggu tanpa kepastian. Menunggu hal yang buram, yang tidak jelas bahkan semua pun seperti warna abu-abu. Tapi, aku terus dan tetap bertahan.
Apakah kamu tau, perasaan kuat apa yang mendorongku terus bertahan untukmu? Tahukah kamu perasaan apa yang kuat untuk terus berdiri tanpa mengenal lelah? Perasaan ini yang aku sebut Cinta.

Cinta.

Satu perasaan tidak berwujud, tapi sangat berharga. Perasaan itu yang mendorongku untuk tetap menunggu dirimu. Tidak perduli bagaimana akhirnya. Aku tetap berpegang teguh pada janjimu. Janji akan setia padaku, dan akan kembali menemuiku nanti.

Janji itu. Ingatkah kamu. Malam dimana sehari sebelum kepergianmu, kamu berjanji padaku. Disaksikan oleh cahaya bulan dan bintang yang gemerlap menghiasi angkasa. Ingatkah kamu. Malam itu kamu mengucapkan janji yang membuatku tidak kuat untuk menahan air mata yang berdesakan ingin keluar? Ingatkah kamu. Malam itu kamu terus merengkuhku kedalam pelukanmu. Menenangkan hati dan jiwaku yang resah atas kepergianmu.

Ingatkah kamu.

Malam itu kamu berjanji akan terus ada untukku. Karena katamu jarak tidak akan pernah membuat kita terpisah? Tapi nyatanya? Kamu menghilang. Bagai matahari yang tergusur oleh awan kelabu dan air hujan. Bagai tulisan pasir yang terhempas oleh ombak.

Kamu seakan sirna. Seakan hilang ditelan bumi. Tahukah kamu? Aku masih setia berkunjung ke tempat dimana pertama kali kamu bilang kamuu mencintai aku. Aku masih berdiri tegak. Aku tidak perduli apa yang mereka katakan tentang kamu. Yang aku tau, kamu tidak seperti yang mereka katakan. Yah. Itu yang masih aku percayai. Sampai saat ini.

Satu tahun.

Aku masih berdiri dengan tegak. Masih mengharapkan kehadiranmu. Ditempat yang sama. Menunggu kamu. Di waktu yang pernah kamu utarakan dulu. Hari ini adalah hari jadi kita. Dan lagi-lagi dulu kamu berjanji akan menemuiku saat hari special kita tiba. Aku terus menunggu.

Tahukah kamu?

Aku datang sebelum matahari terbit, dan aku pulang setelah lewat tengah malam. Tapi, kamu tidak kunjung datang. Bahkan tidak ada tanda-tanda kedatanganmu sama sekali. Apakah kamu lupa? Atau malah kamu memang sengaja tidak ingin menemuiku? Atau mungkin kamu terlalu sibuk? Yah. Mungkin kamu memang terlalu sibuk. Mungkin aku terlalu percaya kepadamu.

Tahun-tahun berikutnya.

Selamat hari jadi yang kesekian kalinya. Tahukah kamu? Aku tetap merayakan hari jadi kita. Ditemani lilin-lilin kecil yang aku hias untuk menggantikan sinar lampu. Dan tidak lupa aku membawa sepotong kue tart dan lilin berbentuk angka sesuai umur hubungan kita. Tahukah kamu? Aku selalu meminta pada tuhan untuk membawamu kembali ketempat ini. membawamu kembali kedalam pelukanku. Membawamu kembali dikehidupanku yang nyata. Namun sepertinya sia-sia.

Lagi-lagi aku meniup lilin dan memakan kue itu sendirian. Menatap indahnya bulan dan bintang ditemani beberapa butiran air mata yang terus menetes. Tahukah kamu? Melewati hal seperti ini sangat menyakitkan untukku. Tidakkah kamu mengetahuinya? Apakah disana kamu merindukanmu? Apakah disana kamu mengingatku? Apa disetiap doamu masih terselip namaku? Seperti yang selama ini aku lakukan. Seperti aku yang selalu mengingatmu, merindukanmu, bahkan selalu menyebut namamu disetiap hembusan nafasku.

Apakah aku ini masih penting? Hal itu yang selalu terucap dalam ingatanku. Apakah aku ini masih cukup pantas untuk diingat? Tidak. Ku rasa itu jawaban yang pantas. Aku tidak cukup atau bahkan memang sangat tidak pantas untuk diingat. Aku mengerti.

Kepergianmu beberapa tahun yang lalu tentu bukan keinginanmu. Itu keinginan orang tuamu. Mereka menginginkan kita berpisah bukan? Itu sebabnya mereka mengirimkan kamu ke negeri yang entah berantah. Ayah dan ibumu tidak menyetujui hubungan kita. Hanya karena aku ini bukan orang  yang berada seperti keluargamu. Mereka menilaiku hanya berdasarkan materi. Mungkin aku memang tidak pantas. Sangat tidak pantas.

Aku mencintaimu. Bukan karena kamu orang yang kaya raya. Bukan karena alasan-alasan lainnya. Memangnya kenapa kalau kamu itu orang kaya atau miskin? Aku tidak harus memperdulikannya bukan?

Kita bersatu karena cinta. Atas dasar perasaan yang membuat kita bahagia. Kamu mencintaiku dan begitupun sebaliknya. Atau malah aku lebih mencintai kamu. Lebih dari perasaan orang lain terhadapmu.
Namun, keputusan orang tuamu sepertinya membuat kamu menyerah. Berhenti mencintaiku. Atau mungkin janji yang pernah kamu ucapkan hanya sekedar basa-basi agar aku tidak tersakiti. Kalau memang iya, kamu salah besar. Kepura-puraanmu membuat aku jauh lebih terpuruk dan  tersakiti.

Puaskah kamu?
Puaskah kamu melihat kehancuran yang aku alami saat ini? puaskah kamu melihat aku tidak bisa lagi mencintai orang lain? Puaskah kamu membuatku terbang dan akhirnya terhempas? Puaskah kamu?
**
Enam tahun setelah kepergianmu.

Aku kembali mengunjungi tempat ini dengan kebaya berwarna merah. Tahukah kamu? Hari ini adalah hari pertunanganku. Aku sadar tidak ada lagi yang bisa aku harapkan. Tidak ada lagi hal yang harus membuatku tetap menunggumu. Semua telah sirna. Aku sudah menguburkan segala angan-angan indah bersama-mu.

Pria itu. Dia adalah sahabat kita.

Ingatkah kamu? Dia ternyata memendam perasaan cinta kepadaku. Menurutku, tidak ada yang salah dengan melepaskanmu dan menjalani lembaran baru bersamanya. Mungkin kini aku sudah merasa lelah mencintaimu. Atau mungkin, kini saatnya aku merasakan indahnya dicintai dengan tulus oleh orang lain.

Dia adalah sahabatku, tentu sahabatmu juga. Dan menurutku tidak cukup susah untuk mencintainya. Yah, hanya memerlukan waktu. Seiring berjalannya waktu aku tentu akan mencintainya dan melupakan kenangan kita.
Tangan halus nan kekar merangkul pinggangku, dengan senyuman khasnya ia mengajakku pulang. Jam sudah menunjukan pukul delapan. Satu jam lagi aku akan meresmikan pertunanganku. Semoga jalan ini memang yang terbaik. Untukku dan untukmu yang sudah meninggalkanku tanpa jejak.

Pertunangan itu berjalan sangat lancar. Senyum merekah dari wajah semua yang menyaksikannya. Dan tahukah kamu, aku melihat sosok ibumu datang ke pesta pertunanganku dengannya. Ia terlihat sangat bahagia. Aku tau, ini memang yang ia inginkan.

Dan Hari pernikahan itu tiba.

Satu tahun setelah pertunangan, dia, keluarganya, dan juga keluargaku merencanakan pernikahan tersebut. Aku tidak menolak. Bukan karena aku pecundang atau wanita yang tidak berani. Namun satu hal yang membuatku kuat untuk berbahagia bersamanya. Aku mulai mencintainya.

Perhatiannya, cinta kasihnya, dan semua yang ia lakukan tulus untuk membuatku bahagia. Dan itu adalah point penting dalam hidupku. aku sadar, sudah tidak ada gunanya menunggumu. Menunggu harapan kosong yang pernah kau tebar padaku. Dan aku sadar. Betapa bodohnya aku terus menunggu tanpa ada kepastian.

Kamu menang.

Kamu pemenangnya. Puaskah kamu sudah membuatku seperti ini? tuhan selalu menyayangi umatnya yang selalu sabar, bukan? Dan sekarang adalah saatnya tuhan menunjukan jalan kebahagiaan untukku.

Kemeja putih, Dasi kupu-kupu, Jas abu-abu, Celana bahan hitam.
Gaun pengantin putih, heels berwarna gading, make-up natural.

Hari pernikahan itu benar-benar tiba. Janji suci itu pun terucap. Janji akan menjalani hidup bersama, selamanya. Janji akan saling setia, dan janji akan tetap bersama walaupun badai menghadang. Aku bahagia. Air mata haru turun berdesakan. Dia mengecup singkat bibirku. Membuat seluruh tamu tersenyum ikut merasakannya.

Tahukah kamu apa yang aku rasakan?

Aku bahagia. Sangat bahagia. Ternyata ini jauh lebih membahagiakan dibanding saat kamu menyatakan perasaanmu kepadaku. Kamu tau? Dia benar-benar membuatku merasa sempurna. Dia memperlakukanku layaknya ratu.
Dihari pernikahan ini, aku menatap bahagia kepada para tamu. Para teman-teman yang datang dan menanyakan bagaimana bisa aku menikah dengannya. Aku bingung. Tetapi kemudian aku bilang, ini semua rahasia tuhan.

Dan hal yang tak kusangka. Kamu hadir.

Kamu hadir dalam balutan jas yang membuat ketampananmu menyeruak keluar. Kamu menghampiri aku dan suamiku. Mengucapkan kata selamat serta memberikan kado yang cukup besar. Kali ini aku berterimakasih. Berterimakasih dengan tegas. Karena kamu menerima akhir bahagia yang aku rasakan.
“maaf. Maaf untuk beberapa tahun membuatmu menunggu. Maaf untuk ucapan, ataupun sikap yang  sudah membuatmu tersakiti. Sekarang bahagialah, sayang” kamu mengucapkan itu dengan lirih. Sangat lirih.
“tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku melakukan ini semua karena kemauanku. Dan saat ini, carilah kebahagiaanmu. Aku tentu sangat bahagia dengan rencana tuhan. Dan kini, kamu pun harus mendapatkan kebahagiaanmu” Aku menyahut tak kalah lirih. Berbagai kenangan bersamamu tiba-tiba saja berganti dengan apa yang aku alami satu tahun ini bersamanya. Bersama suamiku. Bersama imam dimasa depanku.

Aku rasa kini kamu benar-benar harus mencari kebahagiaanmu. Berbahagialah dengan siapapun yang akan menjadi jodohmu. Karena disini, akupun sudah berbahagia dengan suamiku.


The end **

Sondag 26 Januarie 2014

KENAPA KOPERASI BISA BERTAHAN DI SAAT KRISIS MONETER DI TAHUN 1998 ?

Koperasi sejak awal diperkenalkan di
Indonesia memang sudah diarahkan untuk
berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat yang
dikenal sebagai golongan ekonomi lemah. Strata ini
biasanya berasal dari kelompok masyarakat kelas
menengah ke bawah. Eksistensi koperasi memang
merupakan suatu fenomena tersendiri, sebab tidak
satu lembaga sejenis lainnya yang mampu
menyamainya, tetapi sekaligus diharapkan menjadi
penyeimbang terhadap pilar ekonomi lainnya.
Lembaga koperasi oleh banyak kalangan, diyakini
sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan
bangsa Indonesia.
Pada saat Era Reformasi ditandai dengan
berhentinya pemerintahan Orde Baru dan krisis
moneter pada tahun 1997. Krisis moneter masa ini
mengakibatkan hancurnya sistem ekonomi
terutama di Indonesia. Sehingga koperasi lebih
mempunyai peranan pada masa ini. Namun perlu
pula diadakan pembangunan untuk koperasi,
karena inilah sumber ekonomi rakyat kecil.
 Pembangunan koperasi pada masa ini diarahkan
kepada:
Pemulihan produksi dan distribusi
pangan.
Memperbesar akses kredit.
Penataan kelembagaan.
Redistribusi aset.
Membangun industri berbasis sumber
daya.
Ekonomi berbasis iptek.
Operasional dari pembangunan tersebut
dibuat program pemberdayaan koperasi
dan UKM.
Faktor-faktor yang membuat koperasi di Indonesia
masih bertahan ditengah krisis moneter antara
lain:
Alasan keadilan yang cukup mantap
pelaksanaannya dalam koperasi.
Karena koperasi mampu mengumpulkan
berbagai sumber untuk membentuk kekuatan
bersama dalam menghadapi persaingan badan
usaha lain. Dana tersebutb berasal dari
Pemerintah maupun dari pengusaha UMKM
yang menjadi anggota koperasi.
Keberhasilan koperasi bukanlah semata-mata
peran pelaku koperasi dan pemerintah saja
tetapi peran keseluruhan masyarakat untuk
dapat menjadikan lingkungan yang kondusif
untuk koperasi dapat hidup dan berkembang
dengan sehat. Oleh karena itu, setiap lapisan
masyarakat beserta keseluruhan aparat
pemerintah perlu untuk senantiasa
bergandengan tangan di dalam menghidupkan
kembali dan menyuburkan koperasi
Indonesia.
Pada tahun 1999 terjadi perubahan
mendasar dalam pembangunan koperasi dari
perubahan Departemen Koperasi menjadi Menteri
Negara Koperasi dan PKM. Perubahan ini
bertujuan untuk mengurangi peranan pemerintah
dalam pembangunan koperasi yang dinilai terlalu
dominan pada masa orde baru. Tugas Menteri
Negara dalam pembangunan koperasi adalah
menjadi regulator, fasilitator, stabilisator, dan
dinamisator. Terbukti sampai dengan bulan
November 2001, misalnya, berdasarkan data
Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
(UKM), jumlah koperasi di seluruh Indonesia
tercatat sebanyak 103.000 unit lebih, dengan
jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.000.000
orang. Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah
koperasi per Desember 1998 mengalami
peningkatan sebanyak dua kali lipat. Jumlah
koperasi aktif juga mengalami perkembangan yang
cukup menggembirakan, yaitu per November 2001
sebanyak 96.180 unit (88,14 persen). Hingga tahun
2004 tercatat 130.730, tetapi yang aktif mencapai
28,55%, sedangkan yang menjalan rapat tahunan
anggota (RAT) hanya 35,42% koperasi saja. Data
terakhir tahun 2006 ada 138.411 unit dengan
anggota 27.042.342 orang akan tetapi yang aktif
94.708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.703
unit.
Pada periode tahun 2001-2003, pembinaan
koperasi berada pada kedudukan lembaga non
pemerintah Non Departemen (Keputusan Presiden
No 103 Tahun 2001) yaitu Kementerian Koperasi
dan UKM. Pembangunan koperasi pada periode ini
merupakan kelanjutan dari pembangunan nasional
tanpa BPS-KPKM. Pada masa ini program-program
pokok ditujukan dalam rangka melaksanakan lima
pembangunan nasional, salah satunya terkait
dengan pembangunan ekonomi yaitu “Mempercepat
Pemulihan Ekonomi dan Memperkuat Landasan
Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan
berdasarkan Sistem Ekonomi Kerakyatan”.
Pendekatan strategis dalam propenas ditujukan
dengan mengutamakan langkah-langkah
kebijakan dan program yang lebih menekankan
kepada pentingnya penguatan kelembagaan.

Sumber : Google

mohamadihsan03.blogspot.com/2014/01/kenapa-koperasi-bisa-bertahan-di-saat.html?m=1#!/2014/01/kenapa-koperasi-bisa-bertahan-di-saat.html

Dinsdag 31 Desember 2013

I Knew I Loved You -Chapter5-


**
This isn’t goodbye, even as I watch you leave..
This isn’t goodbye, I swear I won’t cry..
Even as tears fill my eyes, I swear I won’t cry..
( What makes a man – Westlife )

            Seminggu lagi tepat satu tahun kepergian Fero, semenjak aku kehilangannya aku lupa caranya tersenyum, aku lupa caranya bisa bahagia dengan sepenuh hati. Kini jessy meninggalkanku, ia kembali kejakarta bersama Daniel. Yah ternyata Daniel harus mengambil alih perusahaannya dijakarta. Walaupun disini ada Melly dan juga Ditya aku tetap merasa kesepian. Ingin rasanya aku pergi kejakarta untuk mendatangi Fero di peristirahatannya yang terakhir. Jujur saja aku sangat merindukan Fero, renyah tawanya, lesung pipinya, gayanya yang sangat keren, dan juga sikapnya yang menyenangkan.
“Rani, boleh aku masuk?” Suara Ditya menggema dibalik pintu yang aku tutup rapat. Bicara tentang Ditya hubungan kami semakin dekat, kadang ia mengajakku jogging, berjalan-jalan, sampai makan malam berdua. Ditya juga rasanya sudah seperti saudara kandungku, walaupun sampai saat ini yang aku ketahui hanya cerita tentang kecelakaannya.
“masuk saja, pintunya tidak terkunci” Jawabku, aku berpura-pura memainkan ponselku. Aku membaca kembali pesan singkat yang mama Fero kirimkan untukku. Ia memintaku untuk hadir diacara satu tahun kepergian Fero.
“kau sudah makan?” Tanya Ditya. Aku mengangguk.
“kapan? Sepertinya makanan masih terpampang rapih dimeja makan, dan menurut bibik kau memang belum makan dari kemarin siang” Tutur Ditya, bagaimana aku napsu makan. Melihat nasi saja aku sudah mual.
“aku sedang tidak lapar” Jawabku singkat.
“kau ini bagaimana, kalau punya masalah jangan disangkut pautkan dengan pola makan dong. Kalau sakit bagaimana? Aku ambilkan ya? Atau mau aku suapin?” Goda Ditya, melihat wajah ditya yang seperti itu tiba-tiba saja wajahku bersemu merah.
“aku bisa makan sendiri. Lagian siapa bilang aku punya masalah? Sok tau sekali kau” Elakku, Ditya tertawa Geli.
“dasar tukang bohong. Tunggu disini, aku akan mengambilkan makanan untukmu” Tuturnya.
            Beberapa menit kemudian ditya kembali kekamarku dengan membawa piring yang penuh dengan makanan. Aku cukup terharu, ternyata dia memperhatikanku.
“sini ayo aku suapi” Ujarnya, ia duduk disebelahku dan sudah siap menyuapiku dengan makanan favorite ku.
“aku bisa makan sendiri Dit” Komentarku. Aku mengambil alih piring yang dipegang oleh Ditya.
“akhir-akhir ini kau selalu melamun, sebenarnya ada apa?” Tanya Ditya, aku menaruh piring diatas meja.
“melamun? Itu perasaanmu saja. Aku baik-baik saja Ditya” Jawabku.
“Benarkah? Baiklah, mungkin memang perasaanku saja” Tuturnya. ia kembali berkutat dengan laptopku. Seperti biasa ia menggunakannya untuk bermain games.
“dua minggu lagi aku harus kembali kejakarta. Ibu memintaku untuk kembali, ia bilang aku sudah cukup lama merepotkan Tante tiwi.” Ucapan Ditya membuat makanan yang baru saja aku telan kembali ke tenggorokan. Kaget? Tentu saja, hanya ditya yang aku punya disini. Hanya dia yang membuatku lupa akan kesedihanku.
“haruskah kau pergi? Lalu bagaimana denganku?” Gumamku pelan.
“Apa katamu?” Tanya Ditya, aku menggeleng.
“tidak, aku tidak berkata apa-apa” Elakku, sekilas raut kecewa ditunjukan oleh lelaki berambut yang hampir panjang itu. Bagaimana sekarang? Ditya akan pergi Dari sini, pertemuan kami memang tidak diharapkan, tapi kenapa sekarang aku harus kehilangan orang yang –cukup- berharga untukku. Aku ---Ah entahlah aku sulit menjelaskan perasaanku saat ini.
**
-author’s POV-
            Sehari sebelum Ditya pergi ke Jakarta, ia mengajak Rania untuk melewati satu hari bersamanya. Walaupun Ditya menyadari banyak yang disembunyikan Rani darinya, tapi ia tetap memilih diam sampai Rani siap untuk menceritakannya. Ditya kini mulai merasakan getaran lain dalam hatinya pada Rani, perasaan ini ia rasakan sekitar beberapa bulan yang lalu, tepat dimana ia mengajak gadis berambut lurus sebahu itu ke satu restaurant favoritenya disini. Rania yang dibalut sebuah dress berwarna cream dengan make up tipis cukup membuat hatinya berdebar. Membuat perasaannya itu menjadi serba salah, bahkan saat sang gadis merangkul dirinya secara tiba-tiba jantungnya seakan meloncat kesegala arah. Begitulah cinta, muncul secara tiba-tiba. Ditya maupun Rania tidak pernah tau akan dipertemukan, apalagi untuk jatuh cinta rasanya terlalu sulit untuk dibayangkan.
“Ditya. Kau jangan lupa untuk mengabariku ya!” Ujar Rania saat sosok ditya menghilang, masuk kedalam mobil jemputannya.
“aku pasti akan mengabarimu sesampainya aku dijakarta. Jaga dirimu baik-baik. Jika ada kesempatan aku akan kembali untuk menemuimu” Balas pria itu. Pria yang dibalut polo shirt, celana jeans dan rambutnya yang mulai panjang ia ikat kebelakang. Entah melihat Ditya yang seperti itu Rani malah melihat perbedaan yang sangat jelas, Ditya adalah Ditya, bukan Fero ataupun orang lain. Mobil yang dikendarai Ditya kini perlahan menghilang, ibu memeluk Rani dengan erat. Akankah Rani kembali kehilangan seseorang yang –mungkin- dicintainya.
“ibu, kenapa Rani menangis?” Tanya Melly, Rani mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

“Rani hanya sedang kesepian sayang” jawab ibunya diplomatis. Ranib mengulas sedikit senyuman, hanya sedikit.

Saterdag 28 Desember 2013

Hadiah Untuk Devi :-)



Kado Spesial Diusia Tujuh Belas


Satu bulan lagi, satu bulan lagi adalah bulan desember, tepat ditanggal 27 desember . Bulan yang selalu ditunggu oleh gadis yang akan berusia tujuh belas tahun. Gadis itu menyematkan gaun yang akan ia pakai bulan depan . Gaun yang selalu ia harapkan agar membuatnya menjadi gadis yang paling cantik. Gadis yang mungkin saja bisa menarik perhatian lelaki idamannya .

"Dev, bisa gak udahan nyoba gaunnya? Katanya mau ke toko buku?" Suara nyaring yang ditimbulkan gadis yg satu tahun lebih tua darinya. Devi menoleh dan tersenyum lebar.

"Okay my sweet sister. Gue kan cuma lagi nyoba gaun ini" Jawab Devi, gadis itu menaruh kembali gaun kedalam lemarinya.

"Uhm, kalo gak salah elo selalu nyoba gaun itu setiap hari kan? Apa perlu? Tuh gaun gak akan berubah, dear" Devi kembali terkekeh.

"Okay, udh cukup ya ceramahnya. Skrg ayo kita ke toko buku" Pungkas Devi.


Devi Rahmawati, yang kini menjadi siswi disekolah SMA pelita hati kelas dua belas memang sedang sibuk mencari buku untuk ujian nasional. Dan perempuan disebelahnya adalah Gladys, sepupu yang umurnya satu tahun lebih tua, namun ia masih bersekolah ditempat yg sama dengan devi.

"Gimana sama Bayu? Beneran mau ngundang dia?" Tanya Gladys , Devi menoleh kearah sepupunya yg sedang menyetir.

"Gak tau, dys. Dia kan cowok populer, kalo dia nerima undangan gue aja udh syukur banget ck" Jawab Devi putus asa.

"Biar gue yang ngasih. Lagian, sepupu lo ini kan termasuk cewek populer. Remember?" Tutur Gladys terkekeh.

"Ya, siapa sih yang gak kenal Gladys Anindita? Pacar dari Andross Pratama, si ketua osis?" Ledekku, Gladys pun ikut tertawa.


**

Disekolah. Lagi-Lagi Devi duduk ditepi lapangan basket, menatap penuh perasaan cinta, dan juga kagum kepada Bayu Orlando Rahardian. Si kapten team basket. Devi sudah menyimpan perasaan suka semenjak Bayu menolongnya.

Sore itu ada kegiatan PMR, salah satu ekskul yang diikuti devi. Sementara Gladys harus absen karena ibunya masuk rumah sakit. Sementara sore itu Devi menunggu angkutan umum, kurang lebih satu jam, sudah hampir putus asa. Akhirnya Bayu yang kebetulan lewat menawarkan bantuan untuk mengantar devi pulang. Dan sejak saat itu, ia memilih untuk mengincar Bayu. Menyukainya dalam diam. Bahkan mengaguminya dari jauh.

"Hey? Bagi minumnya ya?" Suara itu mengalihkan lamunan Devi. Suara yang benar-benar khas ditelinganya.

"Loh, sejak kapan elo disini Bay?" Tanya Devi seraya menggaruk kepalanya.

"Sejak liat elo terus ngeliatin gue sambil melamun" Jawab Bayu sambil terkekeh. Wajah Devi memerah yang mendengar jawaban Bayu. Dan itu membuat bayu semakin geli.

"Thanks minumnya, anyway, muka lo merah tuh" Bayu kembali ke lapangan, namun sebelum kembali ia mengacak pelan rambut devi .


**


"Bayu ngambil minuman elo terus ngacak rambut elo? Itu kemajuan dong?" Seru Gladys, Devi menutup mulut Gladys.

"Ssh, jangan kenceng-kenceng! Kalo anak-anak pada denger kan gue gak enak, dys!" Gladys memberengut.

"Ini kabar baik dev! Bayu udh mulai sadar keberadaan elo!" Seru Gladys sekali lagi.

"Ini ada apa sih?" Suara andross membuat gladys tersenyum simpul.

"Itu loh yang, si bayu udh mulai nganggep si Devi" tutur Gladys senang.

"Wah, kabar bagus tuh dev. Udh lama kan ngarepin itu?" Sambung Andross.

"Please ya ndross, dys, gak usah bikin gue malu deh!" Tutur Devi.

"Hey, seru banget? Gue boleh gabung?" Suara seorang pria itu membuat Devi salah tingkah. Bayu. Lelaki itu kini berdiri dengan senyum lebarnya.

"​ohh hey bay. Iya nih, kita lagi ngomongin acara ultahnya devi bulan depan!" Sahut Gladys.

"Oh ya? Wah, ultah yang ke berapa dev?" Tanya Bayu, mata coklat milik bayu menatap hangat Devi.

"Eh? Ultah yang ke tujuh belas, bay. Iya tujuh belas" dalam jarak yang sedekat ini tentu membuat Devi salah tingkah, ditambah jantungnya yang tak kunjung berhenti. Oh, devi ingin lari saja rasanya.

"Semua anak-anak diundang?" Tanya bayu lagi.

"Tentu bay, elo juga pasti diundang" jawab Andross, devi kontan melotot mendengar ucapan Andross. Ia tidak menyangka Andross akan menyampaikan undangan tersebut.

"Kayaknya elo salah deh Ndross. Muka devi aja kayak gak setuju lo bilang gue diundang" sambung Bayu.

"Eh? Enggak Bay, bukan gitu. Cuma gue masih belom fix aja soal pestanya. Soalnya rencana awal cuma orang terdekat aja sih yang diundang" Tutur Devi, mendengar ucapan Bayu hatinya mendadak jadi tidak enak.

"Itu mah pasti Dev, gue kan udh bicarain ini sama nyokap lo sebelumnya! Tinggal terima beres deh" Ujar Gladys disertai senyuman jailnya.


##


Minggu, 20 Desember 2013.


Seminggu sebelum acara ulang tahunnya Devi malah terlihat santai. Ia bahkan dibilang tidak terlalu perduli. Menurutnya apa yang direncanakan oleh Ibu dan juga Gladys sangat lah berlebihan. Ia tau dan mengerti kalau ulang tahun nya ini harus menjadi ulang tahun yg berkesan. Angka tujuh belas bukan kah selalu penting dalam perayaan ulang tahun?

"Dys! Gue udah punya Gaun, dan gaun gue udh cukup untuk bikin gue nyaman." Ujar Devi, sore itu Gladys memaksanya untuk membeli gaun baru.

"Enggak! Gaun lo itu agak norak, terlalu jaman dulu banget deh" Jawab Gladys, memang gaun yang dimiliki devi bisa dibilang gaun model lama. Namun Devi menyukainya.

"Norak? Dys, inget gak? Dulu kan elo juga suka sama gaun itu?" Devi masih tidak habis fikir dengan tingkah sepupunya.

"No! Pokoknya besok gue bakal anterin elo ke butik langganan gue! Kita pesen gaun baru! Gue mau elo keliatan special di hari yang special!" Tanpa menunggu persetujuan devi, gladys keluar meninggalkan kamarnya.

"Selalu deh! Dasar egois!" Rutuk Devi.


**

"Suntuk banget? Kenapa?" Suara Bayu yang khas membuat lamunan Devi buyar. Hari ini hari yang sangat sial. Bagaimana tidak? Seharian ini dia lebih banyak melamun dibanding mendengarkan guru-gurunya. Bahkan ia hampir dikeluarkan dari kelas.

"Eh, Bayu. Gak papa bay. Cuma lagi bete aja!" Jawab Devi seraya tersenyum. Lagi-lagi ia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.

"Ohiya, gimana persiapan pestanya? Semua anak kelasan lo diundang ya? Anggota PMR juga? Terus gue gimana? Gue kan bukan kelasan lo + bukan anak PMR" Tutur Bayu, devi menoleh sejenak. Gadis itu tersenyum melihat sosok yang sudah ia kagumi sejak lama.

"Tentu aja lo diundang! Bukannya Andross udh pernah bilang ya?" Balas Devi.

"Yah, kan gue cuma mau diundang secara langsung sama elo. Yaudah gak usah bete ya dev. Anyway gue harus ke lapangan indoor nih. Rapat team basket! Duluan ya" lagi-lagi Bayu mengacak pelan rambut Devi. Dan selepasnya Devi hanya ternganga tak percaya.


Sore ini Gladys benar-benar memenuhi ucapannya. Ia memaksa Devi untuk ikut membeli gaun dibutik langganannya. Butik yang terletak disebuah mall besar itu membuat Devi tidak nyaman. Gaun disini terlalu mewah, itu fikirnya.

"Dev, gaun yang ini gimana?" Gladys menunjukan satu gaun selutut dengan tali silang dibelakang, dan berwarna

"PINK? Dys, elo tau gue dari kecil kan?" Seru Devi, namun Gladys hanya terkekeh.

"Okay, wait. Gue bakal cari gaun yang paling bagus buat elo!" Tutur Gladys.

Devi mengedarkan pandangannya, ia sama sekali merutuk diri. Bagaimana jika ia tidak pantas memakai gaun sebagus ini.

"Cobain yang ini" Gladys mendekati Devi dengan sebuah gaun ditangannya. Devi memperhatikan gaun berwarna merah itu dengan seksama. Gaun dengan tali spagetti, serta tali dibagian perut, dan ada corak mawar.

"Tapi, dys!"

"Gak pake tapi-tapi.an! Skrg coba deh!" Paksa Gladys, Devi menurutinya. Ia berjalan dengan membawa gaun itu menuju ruang ganti. Setelah gaun itu menempel dibadannya, ia memperhatikan dengan seksama.

"Gimana dys?" Tanya Devi, Gladys menatap sepupunya dengan wajah berbinar.

"Sempurna! Tinggal vermak muka lo aja dev! Haha" jawab Gladys. Devi tidak menjawab namun ia membuang wajah dari sepupunya.

"Oke, kita ambil gaun ini." Sambung Gladys.


***


Hari yang dinanti pun tiba, rumah Devi telah disulap sedemikian rupa untuk pesta ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Ibu, ayah, dan juga Gladys sudah mempersiapkan yang terbaik untuk pesta ulang tahun ke tujuh belasnya.

Jam sudah menunjukan pukul tujuh, semua tamu undangan sudah datang dari tadi. Ucapan serta kado pun sudah menumpuk untuknya. Namun matanya masih mencari. Mencari seseorang yang sedang ia tunggu.

"Dev, ayo sayang. Waktunya tiup lilin" Seorang wanita paruh baya menepuk pundak Devi. Gadis itu menatap mata ibunya dengan tatapan memohon.

"Sebentar lagi ya, ma. Masih ada yang harus ditunggu" tutur Devi.

"Oke, mama kasih waktu lima menit. Kalo yang ditunggu belom datang juga, kamu harus tetap tiup lilinnya" Ujar sang mama. Devi mengangguk.

Gadis itu masih menatap pintu rumahnya dengan harapan Bayu akan segera datang. Ia sudah berkorban untuk di make over oleh Gladys. Gladys mengubah Devi layaknya seorang princess di disneyland. Dan ini semua demi Bayu. Demi seseorang yang sudah ia kagumi, bahkan ia cintai dalam diam.

"Dev, lima menit lo udah berakhir. Nyokap sama bokap lo nyuruh gue nyamperin lo! Anak-anak yg lain juga udah nunggu lo buat tiup lilin" Gladys menepuk pundak Devi. Ia melihat tatapan Devi yang nanar.

"Dia gak dateng, dys. Dia ingkar janji" tutur Devi, lalu melangkah menuju kue ulang tahunnya.

Devi berdiri tepat dihadapan kue ulang tahunnya. Kue yang berbentuk Elmo dengan lilin ber-angka 17 sama sekali tidak terlihat menggairahkan dimata Devi. Semua itu tampak biasa saja. Mengapa ia bisa sesakit ini mengetahui kalau Bayu tidak datang?

"Tiup lilinnya .. Tiup lilinnya .. Tiup lilinnya sekarang juga.. Sekarang jugaaaaa" seluruh tamu bernyanyi layaknya anak kecil, devi mengucapkan harapan terakhirnya sebelum meniup lilin.

'Aku cuma ingin dia sebagai kado terindah diusia 17 ini tuhan. Hanya dia. Hanya Bayu Orlando Rahardian' ucap devi dalam hati. Lalu ia pun meniup lilin tersebut.

"Nah, potongan kue pertama buat siapa?" Celetuk rachel, teman sekelasku.

"Tentu buat kedua orang tua gue dong!" Jawab Devi sambil menunjukan senyumnya. Ia memberikan potongan kue pertama kepada kedua orang tuanya.

"Sekarang udah tujuh belas tahun kan? Tandanya gak boleh males, makin dewasa, makin rajin belajarnya" Ujar sang ayah lalu mencium pipi anak semata wayangnya.

"Iya, jangan marah-marah mulu. Prestasi disekolah juga jangan sampe turun" sambung sang ibu. Devi mengangguk.

"Nah potongan ketiga ini buat sepupu gue yang super Bawel!" Devi menghampiri Gladys dan memberinya kue.

"Aaah thankyou so much, sweetie." Gladys mencium pipi Devi.

"Ur wellcome, baby" Balas Devi terkekeh.

"Nah, buat gue mana?" Tanya Andross.

"Kalo mau potong aja sendiri" jawab devi sambil tertawa.

"By the way, ada satu kado lagi nih buat lo dev! Yang ini kado special, sesuai permintaan elo" Tutur Gladys.

"Hah? Special? Jangan bilang elo ngundang bryan adams? Haha" balas Devi.

"Ini sih lebih special dari Bryan Adams! Lo pasti suka" sambung Andross. Devi hanya bisa mengangkat bahu dan mengikuti kemana arah Gladys dan Andross pergi. Dan ternyata ditaman belakang ada sebuah panggung kecil, ada beberapa tamu yang sudah memenuhi tempat duduk.

"Lo ngundang artis? Siapa?" Tanya Devi.

"Duduk aja, nanti juga lo tau" Jawab Gladys singkat.

Devi duduk di barisan tengah, ia menatap lekat-lekat seorang pria yang menggunakan kemeja dan sebuah gitar yang duduk di panggung mini tersebut.

"Itu Bayu?" Tanya Devi.

"Ssh, dengerin aja dulu!" Jawab Andross.


Look into my eyes. You will see .

What you mean to me.

Search your heart. Search your soul.

And when you find me there you'll search no more.


Don't tell me, its not worth tryin for.

You can't tell me its not worth dyin' for.

You know its true. Everything I do.

I do it for you.


Look into my heart. You will find.

There's nothing there to hide.

Take me as I am. Take my life.

I would give it all. I would sacrifice.


Don't tell me its not worth fighting for.

I can't help it. There's nothing I want more.

Ya know its true. Everything I do.

I do it for you.


There's no love. Like your love.

And no other could give more love.

There's nowhere. Unless you're there.

All the time. All the way.


Oh- you can't tell me its not worth tryin for.

I can't help it. There's nothing I want more.

I would fight for you. I'd lie for you.

Walk the wire for you. Ya I'd die for you.

Ya I know its true. Everything I do.

I do it for you.


Suara riuh tepuk tangan membuat air mata devi semakin mengalir. Jadi Bayu sudah berada disini sejak tadi? Dan ia begitu bodoh tidak menyadarinya.

"Lagu tadi gue persembahkan buat yang lagi ulang tahun hari ini. Maaf kalo gue gak nemenin elo tiup lilin + potong kue dev. Gue cuma mau kado dari gue yang paling special diulang tahun lo yang ke tujuh belas" tatapan Bayu dan Devi bertemu, air mata devi kembali jatuh.

"Oh iya, ada satu hal lagi yang mau gue ungkapin. Gue sayang sama elo dev, gue cinta sama elo. Maukah elo jadi pacar gue?" Pertanyaan Bayu seolah membuat Devi mati kutu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Jawab dev!" Seru Gladys. Devi tersentak kemudian mengangguk.

"Gue mau jadi pacar lo!" Jawab Devi yang disusul oleh tepuk tangan serta pelukan dari Bayu.


**

Seminggu setelah ulang tahunnya devi baru menyadari, gaun yang ia kenakan itu adalah gaun yang dipesan oleh Bayu secara khusus. Bayu yang memilihnya. Dan selama ini usaha bayu mendekati nya memang sudah terancang dengan apik dengan bantuan gladys dan juga Andross tentunya.

"Ngelamunin apa sih? Cowok lain ya?" Suara bayu yang khas membuat Devi menoleh. Kekasihnya baru saja selesai bermain basket.

"Enggak! Cuma beruntung aja bisa jadi pacar elo!" Jawab devi sambil terkekeh.

"Haha, thanks banget buat gladys sama andross yang udah bantuin gue!l" ujar Bayu.

"Gue kira cuma gue yang suka sama elo, tapi ternyata tuhan baik. Dia mau ngabulin doa gue. Dia mau ngasih elo sebagai kado special di ulang tahun gue yang ke tujuh belas" tutur Devi.

"Yah, tuhan memang selalu baik kan?" Balas Bayu seraya mengacak rambut kekasihnya itu.

Setelah berpacaran Devi baru tau, Gladys sudah mengetahui bahwa Bayu juga memiliki perasaan yang sama. Bahkan semua yang ada dipesta ulang tahunnya—gaun yang indah, bucket mawar yang banyak, serta panggung mini itu Bayu yang mengusulkan. Bayu ingin membuat Devi terkesan dengan hadiah darinya. Bayu dan Devi akan selalu menjadi pasangan kekasih yang berbahagia, bukan hanya perasaan yang sudah lama tumbuh. Namun rasa ingin memiliki dan harus mempertahankan yang membuat mereka jauh lebih kuat.

“Oh iya Dev, ada kado lain yang belom sempet gue kasih buat lo” Bayu mengambil tas nya dan mencari sebuah kotak bersegi panjang.

“apa?” Tanya Devi ketika Bayu memberikannya kotak tersebut.

“Buka aja. Semoga suka ya, dear.” Jawab Bayu, Devi membuka kotak tersebut dengan seksama. Kotak tersebut berisi sebuah kalung dengan liontin mawar berwarna merah pekat, serta ada inisial nama mereka didalamnya. BaD.

“BaD? Kok kedengerannya gak asik ya?” Ujar Devi.

“itu Unik tau. Sini biar aku yang pakein!” Jawab Bayu.

“oh ngomongnya mulai aku-kamu nih? Mau belajar romantis ya? Haha” Goda Devi.

“berisik” Pungkas Bayu lalu mencium pipi kanan Devi. Kontan gadis itu langsung tersipu.

“BAYUUUUUU!!!”


* END *



Sebelumnya gue mau ngucapin Happy Birthday buat adik tersayang gue, Devy Rahmawati. Gue tau kadonya telat, tapi mendingan telat kan daripada gak sama sekali. Hehe.

Happy Sweet Seventeen Birthday ya Dep, udah mulai dewasa dong ya? Udah punya ktp juga, hehe. Pokoknya wishnya udah pernah gue sampein lewat sms, inbox, twitter, eh lebay ya gue.

Oh iya, cerpen ini gue bikin darurat, dua hari jadi. Makanya maaf kalo alur cerita atau bahkan tulisannya gaje :p yang jelas ini gue bikin dengan sepenuh hati.

Gue Cuma bisa ngasih kado cerpen ini, selain doa. Semoga lu semakin dewasa, baik, pokoknya yang ++ ya :)


Salam Hangat.

Putri Wulandari :D